TNI AL. Koarmada II. 16 Februari 2026
Dua unsur Satuan Kapal Eskorta Koarmada II, yakni KRI Brawijaya-320 dan KRI Raden Eddy Martadinata-331, turut serta dalam Latihan Anti Akses dan Anti Amfibi TNI Angkatan Laut yang digelar di wilayah Perairan Bangka Belitung, Minggu (15/2). Kegiatan latihan tersebut disaksikan langsung oleh Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali didampingi Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Dr. (HC) Hidayat Arsani, S.E., sebagai bagian dari upaya peningkatan kesiapsiagaan pertahanan laut nasional.

Sementara itu, dari atas KRI Brawijaya-320, Panglima Komando Armada II Laksamana Muda TNI I G. P. Alit Jaya, S.H., M.Si., selaku Pangkogasgabfib Latopshantai 2025 terlibat secara langsung dalam jalannya latihan. Latihan ini melibatkan unsur-unsur KRI lainnya, antara lain KRI John Lie-358, KRI Cut Nyak Dien-375, KRI Tjiptadi-381, KRI Halasan-630, KRI Surik-645, KRI Semarang-594, serta KRI Pulau Fani-731.
Selain unsur kapal perang, TNI AL juga mengerahkan kekuatan Satgas Udara berupa Pesawat Patroli Maritim CN-235 MPA, pesawat Cassa untuk penerjunan tempur, dua helikopter Panther, Camcopter Puspenerbal, drone kamikaze, pasukan pendarat, serta Roket Multi Launcher Rocket System (MLRS) Korps Marinir dan satuan pendukung lainnya yang terintegrasi dalam skenario operasi Anti Akses dan Anti Amfibi.
Rangkaian latihan diwarnai dengan penembakan Meriam 76 mm oleh KRI Raden Eddy Martadinata-331 serta pelaksanaan Visit, Board, Search, and Seizure (VBSS) oleh prajurit KRI Brawijaya-320. Korps Marinir juga melaksanakan penembakan roket MLRS sebagai senjata utama pertahanan pantai, dilanjutkan dengan penembakan GPMG dan Mortir 60 mm, serta penerjunan pasukan pendarat untuk melaksanakan pendaratan amfibi.
Usai pelaksanaan latihan, Kasal meninjau barang bukti hasil Operasi Keamanan Laut (Opskamla) TNI AL yang bersinergi dengan Satlap Tri Cakti. Barang bukti tersebut berupa komoditas timah balok, pasir timah, serta logam tanah jarang (LTJ) seperti zircon, ilmenite, dan monazite yang berhasil diamankan sepanjang Tahun 2025 hingga 2026. Total berat timah yang diamankan mencapai 496,892 ton serta 10.762,117 ton logam tanah jarang, dengan estimasi nilai sebesar Rp173.644.528.000 atau sekitar Rp173,6 miliar.
Dalam keterangannya, Kasal menyampaikan bahwa Latihan Anti Akses dan Anti Amfibi ini merupakan latihan perdana yang dilaksanakan TNI AL dengan melibatkan berbagai teknologi baru, di antaranya drone surveillance, drone kamikaze, serta Pusat Kendali Mobil (Mobile Command). Selain sebagai peningkatan kemampuan tempur, kegiatan ini juga merupakan bagian dari upaya pencegahan penyelundupan timah yang menjadi perintah langsung Presiden RI Prabowo Subianto. Keberhasilan pengamanan tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah dalam memberantas praktik illegal mining dan penyelundupan sumber daya alam yang merugikan negara serta merusak ekosistem lingkungan.
(pen/2)